
PENULIS
Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M. Hum.
Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang
All Right Reserved
Hak cipta © Omera Pustaka 2026
PENYUNTING
Miranti Rohmanda
ILUSTRATOR SAMPUL
Yusuf Moch Iqbal
KETERANGAN FOTO SAMPUL
- Batu-batu candi
- Bendungan dengan batu-batu candi
PENATA LETAK
Septia Nuha
Diterbitkan oleh Omera Pustaka
Anggota Ikapi
Alamat Kantor: Ajibarang Kulon, Banyumas, Jawa Tengah
Surel: omeracreative@gmail.com
Bekerja sama dengan
BANJOEMAASCH INSTITUUT
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Cetakan I, April 2026
Ukuran Buku: 15,5 x 23 cm
Halaman: x + 153 hal
Penelusuran yang dilakukan di Kelurahan Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto Timur, Purwokerto sebagai situs bersejarah yang mengandung unsur-unsur kebudayaan dari zaman prasejarah dan Hindu Buddha. Tepatnya, di situ ada bangunan candi yang besar yang setaraf dengan Candi Prambanan. Hal itu didukung oleh adanya penemuan patung Ganesa di Karangwangkal, yang kemudian tersimpan di Museum Nasional Republik Indonesia. Candi yang diduga bernama Krtabhavanam atau Kartabhavanam itu sebagai pentahbisan raja pertama Galuh Purba, atau Galuh Keling, atau Pura Medang, atau Medang Sekori, atau Pasirluhur, yaitu Hariang Banga yang bergelar Prabu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya. Sayang sekali, bangunan candi itu mengalami perlakuan vandalisme dengan membuang arca-arca penting seperti Ganesa dan Garuda ke Karangwangkal. Atau, penguburan patung Siwa, Wisnu, dan Durga di Arcawinangun bagian utara, sedangkan Siwa Mahaguru ke arah selatan, dugaannya ke Mersi. Masyarakat Mersi merasa bangga sebagai keturunan Maharesi. Kata Mersi menurut mereka berasal dari Maharesi. Selain itu, batu-batu candi juga dimanfaatkan untuk bahan bangunan bendungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pelus, Arcawinangun pada zaman Kolonial Belanda.
Harga: Rp 114.800,00
ISBN: masih dalam proses